Semua pihak diminta melakukan introspeksi diri dan memberi ruang kepada para penerus. Menurutnya, tidak ada yang sempurna dalam menjalankan tugas pemerintahan, sehingga kritik seharusnya disampaikan dalam bentuk masukan yang membangun.
“Hentikan gontok-gontokan. Berikan masukan kepada pejabat saat ini agar dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik,” tegasnya.
Sebagai daerah yang berlandaskan adat dan budaya, Mangiring menekankan pentingnya penerapan restorative justice (RJ) dalam menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat.
Baca Juga:
Syukuran HUT Kabupaten Samosir Ke-22 Tahun di Selenggarakan 2 Hari, yang Akan di Hibur Artis Papan Atas Ungu
"Saya punya harapan agar penyelesaian masalah tidak selalu langsung dibawa ke ranah hukum,Dahulukan adat dan budaya dengan menerapkan nilai Dalihan Natolu, sehingga tercipta rasa saling percaya dan keharmonisan di tengah masyarakat,” pungkasnya.
Penjabat (Pj) Bupati pertama Kabupaten Samosir periode 2004–2005, Wilmar Simanjorang, menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan pembangunan ekonomi, sosial, dan ekologi. Wilmar mengenang awal berdirinya Samosir sebagai daerah otonom yang fondasinya diletakkan melalui semangat persatuan dan perjuangan bersama.
Wilmar menekankan bahwa tema “Samosir Rumah Kita” bukan sekadar slogan, melainkan komitmen bersama untuk merawat alam, budaya, dan kerukunan masyarakat
Baca Juga:
Kabupaten Samosir Satu satunya Asal Propinsi Sumut Raih Sertifikat Menuju Kota Bersih
Menurutnya, keberadaan Samosir di kawasan Danau Toba yang telah ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark Kaldera Toba merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab besar dalam menjaga kelestarian lingkungan.
[Redaktur Hadi Kurniawan]